Print

Ziarah kubur Menjelang Ramadhan

Written by pak_w. Posted in Berita Terbaru

Ziarah kubur merupakan perkara yang disyariatkan dalam Islam dengan tujuan agar orang yang melakukannya dapat mengambil pelajaran dengannya dan dapat mengingat kepada kematian dan akhirat.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قَدْ كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَقَدْ أُذِنَ لِمُحَمَّدٍ فِي زِيَارَةِ قَبْرِ أُمِّهِ فَزُورُوهَا فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ الْآخِرَةَ
“Saya dulu melarang kalian berziarah kubur. Sekarang, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah diizinkan untuk menziarahi makam ibunya, maka berziarah kuburlah kalian! Karena, itu mengingatkan kalian terhadap Akhirat” (HR.Tirmizi, Muslim, Abu Daud)

 

Larangan pada permulaan Islam itu ialah karena masih dekatnya masa mereka dengan zaman Jahiliyyah. Dikhawatirkan adat dan tradisi serta upacara-upacara Jahiliyyah masih belum bisa mereka lepaskan dan mereka tinggalkan. Oleh sebab itu, Rasulullah melarang para sahabat untuk menziarahi kubur, sebab mereka itu ziarah kubur karena tujuan dan maksud-maksud tertentu yang tidak sesuai dengan ajaran Islam, seperti bid’ah, kurafat, tahayul, adat tradisi yang berbau syirik. Mereka ziarah kubur mau minta jimat, minta carikan jodoh dan lain sebagainya.

Karena, diantara tujuan dari ziarah kubur itu menurut agama adalah sebagaimana yang tertera dalam hadits di atas dan hadits berikut ini :

Rasulullah bersabda :

فَزُوْرُهَا فَإِنَّ فِيْهَا عِبْرَةً وَلاَ تَقُوْلُوْا مَا يَسْخَطُ الرَّبُّ
“Maka sekarang ziarahilah. Karena, sesungguhnya pada ziarah kubur itu terdapat pelajaran yang berharga. Akan tetapi, janganlah kalian mengucapkan kata-kata yang dapat membuat murka Tuhanmu.” (HR. Ahmad, Hakim, Baihaqi)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَلاَ فَزُوْرُوْهَا فَإِنَّهَا تُرِقُّ الْقَلْبَ، وَتُدْمِعُ الْعَيْنَ، وَتُذَكَّرُ الاَخِرَة
“Ziarahilah kubur, sesungguhnya hal itu dapat melembutkan hati, meneteskan air mata dan mengingatkan pada kehidupan akhirat” (HR. Hakim 1/376)

Melihat kuburan yang sunyi, gelap, timbunan tanah di atasnya akan menggerakkan hati dan jiwa manusia untuk mempersiapkan diri menghadapi kematian. Bila seseorang melihatnya lebih dalam lagi maka akan berkata pada dirinya sendiri; ''Kehidupan dunia adalah sementara karenanya beberapa saat lagi akan berakhir dengan kemusnahan seluruh kebutuhan materi yang selama ini dicari dengan berbagai cara.

Saat berada di kuburan, jika kita berpikir dan merenung jauh ke depan dibalik kehidupan dunia ini tentu kita akan tertegun, tercenung, dan sadar diri sudahkah kita bersiap dan berbekal untuk kehidupan di alam sana?.

Menyaksikan nisan-nisan dapat melembutkan hati yang paling keras sekalipun, membuat pendengaran yang paling tuli dan memberikan cahaya kepada penglihatan yang paling samar. Menyebabkan orang melihat kembali cara hidupnya, mengevaluasinya, berpikir mengenai pertanggung jawabannya yang berat dihadapan Allah dan manusia serta terhadap kurangnya amal kebajikan yang telah dibuat.

Jika kita membaca dan mempelajari hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dapat diketahui bahwa hikmah dan tujuan penting dari ziarah kubur itu adalah:

1. Memberikan manfaat bagi penziarah kubur yaitu untuk mengambil ibrah (pelajaran), melembutkan hati, mengingatkan kematian dan mengingatkan tentang akan adanya hari akhirat.
2. Memberikan manfaat bagi penghuni kubur, yaitu ucapan salam (do’a) dari penziarah kubur dengan lafadz-lafadz yang pernah dibaca oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
3. Untuk menghidupkan sunnah yang telah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
4. Untuk mendapatkan pahala kebaikan dari Allah dengan ziarah kubur yang dilakukannya.

Nah, bilamana ziarah kubur kosong dari maksud dan tujuan tersebut, maka itu bukanlah ziarah kubur yang diridhai oleh Allah. Al-Imam Ash-Shan’ani rahimahullah mengatakan: “Semuanya menunjukkan tentang disyariatkannya ziarah kubur dan penjelasan tentang hikmah yang terkandung padanya yaitu agar dapat mengambil ibrah (pelajaran). Apabila kosong dari ini (maksud dan tujuannya) maka bukan ziarah yang disyariatkan.” (Subulus Salam 2/162)

Jadi, makin jelaslah bagi kita maksud dari ziarah kubur itu, bukanlah lantaran karena akan masuk bulan Ramadhan, lalu pergi ke kubur bersama-sama. Atau, untuk minta berkah (berdoa), lantas dibacakan wirid-wirid dan bacaan tertentu. Atau, untuk menghadiah Al-Fatihah, Atau, dalam rangka mengenang jasa dan kepahlawanan seseorang. Atau, untuk memberikan penghormatan, lalu ditaburkan bunga dan kembang.

Tetapi dengan menziarahi kubur, dapat mengingatkan kita kepada teman, handai taulan yang telah meninggal, mereka dulu pernaha bersama kita, makan dan minum bersama serta bersenang-senang dalam kehidupan dunia. Tetapi, sekarang mereka sendirian, digadaikan dengan amal mereka, jika baik maka dia akan baik dan jika jelek dia akan menjadi jelek. Dengan begitu orang yang ziarah kubur tadi akan mendapat nasehat, hatinya menjadi lunak, sikap congkak dan angkuhnya berkurang.

Siapa saja yang menyadari hakikat dari ziarah kubur ini, ia akan lebih banyak tafakkur. Ia akan banyak mohon ampun kepada Allah atas segala kelalaiannya selama ini. Ia akan mengisi sisa umurnya dengan hal-hal yang akan bermamfaat baginya setelah kematian. Ia akan berusaha meninggalkan segala maksiat menuju ketaatan. Karena, pada akhirnya ia akan masuk kubur, akan meninggalkan semuanya, harta bendanya, anak dan keluarganya dan lain sebagainya. Ia akan memperbanyak amal sebagai bekal dalam perjalanan berikutnya setelah kematian menjeputnya.

Disamping itu, ziarah kubur juga dalam rangka berbuat baik kepada mayit dengan mengucapkan salam, mendoakannya dan memohonkan ampun untuknya. Dan mengenai ini ada sekian banyak hadits.

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ لَلاَحِقُوْنَ نَسْأَلُ اللهَ لَنَا وَلَكُمُ الْعَافِيَةَ
“Salam keselamatan atas penghuni rumah-rumah (kuburan) dan kaum mu’minin dan muslimin, mudah-mudahan Allah merahmati orang-orang yang terdahulu dari kita dan orang-orang yang belakangan, dan kami Insya Allah akan menyusul kalian, kami memohon kepada Allah keselamatan bagi kami dan bagi kalian” (HR. Muslim no. 974)