Print

Mandi Wiladah

Written by pak_w. Posted in Berita Terbaru

Ulama sepakat bahwa mandi wajib dikerjakan setelah selesai nifasnya, dan tidak ada kewajiban mandi setelah melahirkan. Karena tujuan mandi wajib adalah untuk mengangkatkan hadats besar, maka wanita yang dalam kondisi masih nifas belum wajib mandi.

Tidak diketemukan dalil yang menyatakan bahwa seorang wanita apabila dia melahirkan (wiladah) wajib atau sunnah mandi.

Jika seandainya terjadi kelahiran tanpa diikuti dengan keluarnya darah, maka hukumnya ketika itu sama seperti hukum janabah (yakni hukum keluarnya mani iaitu wajib mandi) karena bayi adalah hasil percampuran dari air mani lelaki dan air mani wanita. Sebagaimana yang diyatakan oleh Syekh DR. Muhammad Zuhaili dan Dr. Mustafa al-Bugha (Lihat kitab al-Mu’tamad fi al-Fiqh asy-Syafe’i 1/ 129 dan Al Manhaji 1/82)

Sedangkan mazhab Hanabilah dan Hanafiyyah berpendapat, keluarnya bayi tidak mewajibkan mandi, yang mewajibkan adalah keluarnya darah nifas. Sehingga seorang wanita yang melahirkan tanpa ada darah, tetap sah jika langsung menunaikan shalat.

Berkata Imam Ibnu Qudamah : “Yang shahih (menurut mazhab Hanbali) tidak wajib mandi bagi wanita setelah selesai melahirkan (wiladah). Karena suatu kewajiban hanya bisa ditetapkan dengan adanya dalil syara’. Sedangkan dalam masalah wiladah ini tidak ada nas yang mewajibkan mandi. Hal ini karena bayi yang dilahirkan bukanlah darah dan bukan juga mani, sedangkan yang terdapat di dalam nas perkara yang mewajibkan mandi ialah dua sebab tersebut (darah dan keluar mani).” (Al Mughni (1/278)

Jadi, hukum mandi setelah melahirkan (wiladah) tidak wajib dan tidak pula sunah. Jika seorang ibu setelah melahirkan butuh untuk mandi, dia boleh saja mandi. Hanya saja, tidak diyakini sebagai mandi yang sunah, lantaran tidak adanya tuntunan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.