Print

Mandi Balimau

Written by pak_w. Posted in Berita Terbaru

Beberapa hari menjelang Ramadhan ada dikenal sebuah tradisi bernama Balimau, yaitu sebuah prosesi mandi, baik sendirian atau secara bersama-sama di sungai, danau, tepi pantai atau di lubuak (mata air), konon dalam rangka mensucikan diri menyambut datangnya bulan Ramadhan.

Tradisi 'balimau', yaitu tradisi mandi menggunakan jeruk nipis yang berkembang di kalangan masyarakat Minangkabau. Biasanya tradisi balimau dilakukan sehari sebelum datangnya bulan Ramadan. Selain jeruk nipis, terkadang beberapa menambahkan bunga-bungaan yang diramu dan dibubuhi parfum non-alkohol. (Merdeka.com).

Latar belakang dari balimau adalah membersihkan diri secara lahir dan batin sebelum memasuki bulan Ramadan, sesuai dengan ajaran agama Islam, yaitu menyucikan diri sebelum menjalankan ibadah puasa. Secara lahir, mensucikan diri adalah mandi yang bersih. Zaman dahulu tidak setiap orang bisa mandi dengan bersih, baik karena tak ada sabun, wilayah yang kekurangan air, atau bahkan karena sibuk bekerja maupun sebab yang lain. Saat itu pengganti sabun di beberapa wilayah di Minangkabau adalah limau (jeruk nipis), karena sifatnya yang melarutkan minyak atau keringat di badan. (Sumber, Wikipedia)

Balimau berarti penekanan makna bahwa ia mandi benar-benar bersih. Itulah yang kemudian dikaitkan dengan ajaran agama Islam, yakni sebagai simbol benar-benar membersihkan diri lahir dan batin menjelang melaksanakan ibadah puasa.

Tradisi balimau dipercaya sudah ada sejak abad ke-19 pada masa penjajahan Belanda. Awalnya, tradisi balimau merupakan sebuah ritual di mana pada hari terakhir bulan Sya'ban seseorang diharuskan mandi keramas dengan limau, kasai (bunga rampai), dan beberapa jenis bunga lainnya. Setelah balimau atau bakasai tersebut, barulah seseorang berniat untuk berpuasa Ramadhan esok harinya.

Balimau ini biasanya dilakukan di tempat pemandian umum. Karena zaman dahulu, memang warga Minang melakukan aktivitas MCK di tempat pemandian umum yang disebut lurah atau pincuran. Zaman dahulu tak ada kamar mandi di rumah.

Perlu diketahui, bahwa mandi atau membersihkan badan itu ada yang wajib yakni untuk menghilangkan hadats besar, dan ada yang sunnah. Jenis-jenisnya sebagai berikut:

I. MANDI-MANDI YANG DISUNNAHKAN

1. Mandi hari Jumat. Namun ada khilaf apakah hukum mandi jum’at itu wajib atau sunnah. (Bukhari no 8 79, dan Muslim 2/580 no 846)

2. Mandi untuk berihram (Hadits hasan diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi)

3. Mandi ketika masuk kota Makah (HR. Bukhari dan Muslim, lihat Al-Wajiz fi Fiqhi Sunnah walkitabil 'Aziz)

4. Mandi setiap kali akan berjima’, karena Yang demikian ini lebih suci, lebih baik, dan lebih bersih. (Abu Dawud no 219, Nasa’i, Thabrani, dan dihasankan oleh Al-Albani dalam shahih Abu Dawud 1/43, dan Adabuz Zifaf hal 32)

5. Mandi setelah memandikan mayat. (Hadits shahih diriwayatkan oleh Ibnu Majah)

6. Mandi karena menguburkan orang musyrik (HR. Abu Dawud no 3214, dan Nasai 1/110 dan 4/79, dan Ahmad dan selain mereka. Lihat shahih An-Nasa’i no 184).

7. Mandi perempuan beristihadhah (HR. Abu Dawud 1/96 no 3160 dan dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah, berkata Syaikh Bin Baz :”Isnadnya la ba’sa bihi atas syarat Muslim”)
Diperbolehkan bagi wanita yang mengalami Istihadhah untuk menjamak shalatnya antara Zhuhur dan Ashar, Maghrib dan 'Isya, dan Shubuh dengan sekali mandi pada setiap kali waktu jamak shalat. Jadi jumlahnya terdapat 3 kali mandi untuk 5 kali shalat fardhu (sehari semalam). (HR. Abu Dawud. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam shahih sunan Abi Dawud 1/58 no 274)

8. Mandi setelah pingsan
Dalilnya adalah berdasarkan hadits dari 'Aisyah yang menceritakan keadaan Rasulullah saat hendak mengimami shalat namun ia sedang sakit parah, dan beliau pingsan berkali-kali. Setiap kali bangun Rasulullah mandi, kemudian pingsan lagi, kemudian bangun dan mandi, lalu pingsan lagi. (HR. Bukhari dalam Al-Fath no 687 dan Muslim 1/418). Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam melakukan hal itu tiga kali dan dia dalam keadaan berat dengan sakitnya, maka hal ini menunjukkan akan sunnahnya mandi karena pingsan.

9. Mandi karena berbekam (HR. Abu Dawud 1/96 no 3160 dan dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah, Berkata Syaikh Bin Baz :”Isnadnya la ba’sa bihi atas syarat Muslim”)

10. Mandi ketika masuk Islam (bagi yang menganggap hal ini adalah sunnah)

11. Mandi ketika dua hari raya/Idul Fitri dan Idul Adha. (Muwatha ’ Imam Malik 1/177)

Sebagian ulama berpendapat bahwa masih ada mandi-mandi lain yang disunnahkan seperti;
12. Mandi ketika hari ‘Arafah (HR. Imam Baihaqi)
13. Mandi hendak wuquf (berhenti) di Arafah.
14. Mandi hendak bermalam di Mudzdalifah.
15. Mandi untuk melempar tiga jumrah.
16. Mandi untuk thawaf (qudum, ifadlah, dan wada’).
17. Mandi untuk sa’i (berjalan cepat pergi dan kembali antara bukit Shafa dan Marwah 7 kali).
18. Mandi untuk masuk Madinah Al Munawwarah.

II. MANDI-MANDI YANG DIWAJIBAKAN

1. Keluarnya mani baik dalam keadaan terjaga atau dalam keadaan tidur (Shahih: Mukhtashar Muslim no:151, Muslim I:269 no:343 dan 'Aunul Ma'bud I: 366 no: 214). Muttafaqun 'alaih: Fathul Bari I: 228 no:130, Muslim I: 251 no:313 dan Tirmidzi I:80 no:122).

2. Jimak (berhubungan suami istri) walaupun tidak mengeluarkan mani (Shahih: Mukhtashar Muslim no: 152 dan Muslim I: 271 no: 348).

3. Orang kafir yang masuk kedalam Islam (HR. Abu Dawud, Nasa’i, Tirmidzi, dan Ahmad. Tirmidzi berkata: “Ini adalah hadits hasan.” Dishahihkan Albani dalam Irwa’ul Ghalil I/163).

Menurut sebagian ulama orang kafir -baik kafir asli maupun kafir karena murtad- yang masuk Islam, wajib baginya mandi.

4. Matinya orang Islam, selain mati syahid di medan jihad (HR. Bukhari – Muslim)

5. Haidh. Seorang wanita yang telah selesai haidh wajib atasnya mandi, dan berhentinya haidh merupakan syarat sahnya mandi. Para ulama’ telah bersepakat bahwa wanita yang telah berhenti dari nifas juga wajib baginya mandi sebagaimana wanita yang telah berhenti dari haidh. (Mutafaqqun 'alaih)

6. Nifas.

Seorang wanita yang telah selesai nifas diwajibkan mandi, dan berhentinya darah nifas merupakan syarat sahnya mandi. Diantara dalil dalil yang menjelaskan bahwa darah nifas adalah darah haidh adalah sabda Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam kepada ‘Aisyah radhiyallahu’anha tatkala ia mengalami haidh: (HR. Bukhari – Muslim)

Dari enam macam mandi wajib dan 18 macam mandi sunnah di atas ternyata tidak ada mandi untuk menyambut Ramadhan. Jadi, sebenarnya dalam ajaran Islam tidak dijumpai istilah balimau, zaman Rasulullah, sahabat, tabiin, tabiit tabiin dan seterusnya tidak pernah dikenal. Yang dianjurkan dalam Islam adalah membersihkan diri secara zahir dan bathin dengan bertaubat dan saling bermaafan. Karena esensi dari hadirnya bulan Ramadhan antara lain adalah Ramadhan sebagai bulan pengampunan dosa, pembersih jiwa dan pensuci hati.

Dengan demikian jelaslah bahwa perbuatan ini tidak disyariatkan. Dan, yang menjadi syarat untuk melakukan puasa Ramadhan adalah niat untuk berpuasa esok pada malam sebelum puasa, adapun mandi wajib atau sunnah untuk puasa Ramadhan tidak ada tuntunannya dari Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun jangan salah paham, bukan berarti tidak boleh mandi tetapi mengaitkan atau mensyaratkan bahwa sebelum Ramadhan wajib atau disunnahkan mandi. Nah, inilah yang tidak ada ajarannya dari Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam.

Kebiasaan yang sedemikin cantik dan bagusnya yang dikemas oleh ninik mamak dan pemangku adat, secara perlahan-lahan telah terjadi pergeseran nilai, hal ini bisa kita lihat dengan kasat mata terjadinya pembauran laki-laki dan perempuan yang bukan mahram dalam satu tempat mandi/sungai, berhura-hura, pemubaziran, ugal-ugalan dijalan raya, bahkan bermuara pada maksiat. Tentu ini sangat bertolak belakang dengan nilai-nilai ajaran agama. Seandainya balimau dilakukan perorangan seperti dirumah atau oleh keluarga tanpa acara serimonial belaka dengan tidak mencampur adukkan yang hak dan bathil, maka ini bisa ditoleril, karena tujuannya utama adalah membersihkan diri. dan gembira menyambut datangnya bulan suci Ramadhan.

Firman Allah Ta’ala:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (QS. Al-Baqarah {2} : 222)