Print

MASYA ALLAH

Written by pak_w. Posted in Berita Terbaru

Firman Allah Ta’ala,

وَلَوْلا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شآءَ اللهُ لا قُوَّةَ إِلَّا بِالله
“Mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu ‘Maa syaa Allah La quwwata illa billah’ (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah).” (QS. al-Kahfi [18] : 39)

Ayat ini dijadikan dalil sebagian ulama terkait kapan kita diajurkan mengucapkan masyaa Allah. Dalam ayat ini, orang mukmin menasehatkan kepada temannya pemilik kebun yang kafir, agar ketika masuk kebunnya dia mengucapkan, “Maa syaa Allah La quwwata illa billah’” sehingga kebunnya tidak tertimpa hal yang tidak diinginkan.

Ketika menjelaskan ayat ini, Imam Ibnu Utsaimin mengatakan,

وينبغي للإنسان إذا أعجبه شيء من ماله أن يقول: “مَا شَاءَ اللَّهُ لا قوة إلَّا بالله” حتى يفوض الأمر إلى الله لا إلى حوله وقوته، وقد جاء في الأثر أن من قال ذلك في شيء يعجبه من ماله فإنه لن يرى فيه مكروهاً
Sudah sepatutnya bagi seseorang, ketika dia merasa kagum dengan hartanya, agar dia mengucapkan, “Maa syaa Allah La quwwata illa billah’” sehingga dia kembalikan segala urusannya kepada Allah, bukan kepada kemampuannya. Dan terdapat riwayat, bahwa orang yang membaca kalimat ini ketika merasa heran dengan apa yang dimilikinya, maka dia tidak akan melihat sesuatu yang tidak dia sukai menimpa hartanya. (Tafsir Surat al-Kahfi, ayat 39).

Syaikh Abdul Aziz bin Baz mengatakan, “disyariatkan bagi orang mukmin ketika melihat sesuatu yang membuatnya takjub hendaknya ia mengucapkan Maa syaa Allah.

Ucapan “Maa syaa Allah” (مَا شَاءَ اللَّهُ) ini mengembalikan kekaguman kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bahwa semua yang kita kagumi itu terwujud atas kehendak Allah, bukan karena usaha kita atau lantaran kemampuan, kekuatan dan daya upaya kita. Dicontohkan dalam ayat tersebut, jika seseorang memasuki kebun, hendaklah ia mengucapkan “Maa syaa Allah” (مَا شَاءَ اللَّهُ). Kekagumannya atas indahnya kebun tersebut, ranumnya buah, lebatnya tanaman dan berhasilnya perkebunan, semata-mata kebaikan-kebaikan itu atas kehendak Allah.

Di dalam kitab Tafsir Al Qura’nul Karim Surat Al Kahfi, Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin menjelaskan bahwa kalimat “Maa syaa Allah” (مَا شَاءَ اللَّهُ) bisa diartikan dengan dua makna. Hal tersebut dikarenakan kalimat “Maa syaa Allah” (مَا شَاءَ اللَّهُ) bisa di-i’rab dengan dua cara di dalam bahasa Arab:

1. I’rab yang pertama dari “Maa syaa Allah” (مَا شَاءَ اللَّهُ) adalah dengan menjadikan kata “maa” (ما) sebagai isim maushul (kata sambung) dan kata tersebut berstatus sebagai khabar (predikat). Mubtada’ (subjek) dari kalimat tersebut adalah mubtada’ yang disembunyikan, yaitu “hadzaa” (هذا). Dengan demikian, bentuk seutuhnya dari kalimat “Maa syaa Allah” adalah :

هذا مَا شآءَ اللهُ
“Hadzaa Maa syaa Allah, inilah yang dikehendaki oleh Allah”.

2. Adapun i’rab yang kedua, kata “maa” (ما) pada “maa syaa Allah” merupakan maa syarthiyyah (kata benda yang mengindikasikan sebab) dan frase “syaa Allah” (شاء الله) berstatus sebagai fi’il syarath (kata kerja yang mengindikasikan sebab). Sedangkan jawab syarath (kata benda yang mengindikasikan akibat dari sebab) dari kalimat tersebut tersembunyi, yaitu “kaana” (كان) . Dengan demikian, bentuk seutuhnya dari kalimat “maa syaa Allah” adalah:

مَا شَاءَ اللَّهُ كان
Maa syaa Allahu kaana,

مَا شآءَ اللهُ كَانَ وَمَا لَمْ يَشَاءْ لَمْ يَكُن
“Apa yang Allah kehendaki pasti terjadi, yang tidak Ia kehendaki tidak terjadi”

Ringkasnya, “maa syaa Allah” bisa diterjemahkan dengan dua terjemahan, “inilah yang diinginkan oleh Allah” atau “apa yang dikehendaki oleh Allah, maka itulah yang akan terjadi”. Maka ketika melihat hal yang menakjubkan, lalu kita ucapkan “Maa syaa Allah” (مَا شَاءَ اللَّهُ), artinya kita menyadari dan menetapkan bahwa hal yang menakjubkan tersebut semata-mata terjadi karena kuasa Allah.