Print

Meraih Maghfirah Allah Di Bulan Ramadhan

Written by pak_w. Posted in Berita Terbaru

Maghfirah bermakna ampunan. Pakar bahasa Al-Qur’an, Ar-Raghib al-Isfahani menyatakan bahwa maksud ghufran غُفْرَان dan maghfirah مَغْفِرَة dari Allah adalah pemeliharaan Allah terhadap seorang hamba dari azab yang akan menimpanya.

وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ
“ . . . dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan kami ta`at". (Mereka berdo`a): "Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali". (QS. Al Baqarah {2} : 285)

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَة مِنْ رَبِّكُمْ
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu.” (QS. Ali Imran {3} : 133)

Kata ini terulang dalam Al Qur’an sebanyak 28 kali, yaitu ;

Allah Maha Pengampun, karena Dia memiliki ampunan :

وَإِنَّ رَبَّكَ لَذُو مَغْفِرَةٍ لِلنَّاسِ عَلَى ظُلْمِهِمْ
“Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mempunyai ampunan (yang luas) bagi manusia sekalipun mereka zalim.” (QS. Ar-Ra’ad {13} : 6)

Ayat di atas menggunakan kata an-Naas yaitu semua manusia, ini mengisyaratkan bahwa maghfirah (ampunan) Allah dapat menyentuh semua manusia termasuk yang kafir selama mereka menempuh jalan yang benar untuk meraihnya. Ayat ini menyatakan Allah pemilik ampunan yang dapat Dia bagi-bagikan kepada siapa saja baik yang meminta maupun yang tidak meminta. Walaupun mereka berbuat kezaliman. Rahmat-Nya mengalahkan amarah-Nya, tetapi sayangnya kebanyakan manusia tidak memamfaatkan rahmat-Nya yang demikian luas itu.

إِنَّ رَحْمَتِيْ تَغْلِبُ غَضَبِيْ
”Sesungguhya rahmat-Ku mengatasi/mengalahkan amarah-Ku” (HR. Bukhari dan Muslim)

Untuk itu Al Qur’an memanggil para hamba-hamba yang terlanjur berbuat dosa dan berbagai maksiat agar jangan berputus asa dari rahmat Allah, segeralah minta ampun, karena Allah Maha Penerima taubat.

قُلْ يَاعِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
“Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar {39} : 53)

Dari Anas bin Mâlik Radhiyallahu anhu , beliau berkata: Aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Allah Tabaraka wa Ta'ala berfirman,

يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيكَ وَلَا أُبَالِي يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ وَلَا أُبَالِي يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِي لَا تُشْرِكُ بِي شَيْئًا لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً .
'Wahai, anak Adam! Sungguh selama engkau berdoa kapada-Ku dan berharap kepada-Ku, niscaya Aku ampuni semua dosa yang ada pada engkau, dan Aku tidak peduli. Wahai, anak Adam! Seandainya dosa-dosamu sampai setinggi awan di langit, kemudian engkau memohon ampunan kepada-Ku, niscaya Aku ampuni dan Aku tidak peduli. Wahai, anak Adam! Seandainya engkau menemui-Ku dengan membawa kesalahan sepenuh bumi, kemudian menemui-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan Aku sedikit pun, tentulah Aku akan memberikan pengampunan sepenuh bumi'." (HR. at-Tirmidzi dalam Sunan-nya no. 3540).

Begitu besar rahmat Allah kepada hamba-hamba-NYa yang bersalah, sampai-sampai diberitakan dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallama, bersabda:

إِنَّ صَاحِبَ الشِّمَالِ لِيَرْفَعُ الْقَلَمَ سِتَّ سَاعَاتٍ عَنِ الْعَبْدِ الْمُسْلِمِ الْمُخْطِئِ أَوِ الْمُسِيءِ، فَإِنْ نَدِمَ وَاسْتَغْفَرَ اللهَ مِنْهَا أَلْقَاهَا، وَإِلَّا كُتِبَتْ وَاحِدَةً
“Sesungguhnya malaikat sebelah kiri akan mengangkat penanya selama 6 sa’ah terhadap kesalahan atau kejelekan yang dilakukan oleh seorang hamba yang Muslim, jika hamba tersebut menyesal dan memohon ampun kepada Allah atas kesalahan yang dilakukannya, maka Malaikat kiri tidak jadi mencatatnya, namun jika tidak ada permohonan ampun, maka akan ditulis satu (dosa atas kesalahan yang diperbuatnya tersebut). HR. Thabrani dalam Mu’jam Kabiir (no. 7765) dan Imam Baihaqi dalam Syu’abul Iman (no. 6625),

Hadits ini menjelaskan ditahannya catatan dosa sebelum enam jam, atau dalam riwayat lain, disebutkan oleh al-Haitsami dan al-Manawi, dengan redaksi 7 jam. Ketika seseorang beristighfar, Allah akan mengampuni dosanya. Hanya saja, perlu dicatat, bahwa ini adalah masalah ghaib.

Allah berfirman :
إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ
“Sesungguhnya Tuhanmu Maha Luas ampunanNya.” (QS. An-Najmi {53} : 32)

Keluasan ini tidak hanya mengantar kepada berulang-ulangnya Yang Maha Pengampun itu mengampuni dosa, tetapi juga mengisyaratkan banyaknya cakupan dari maghfirah-Nya. Allah tidak hanya mengampuni dosa besar atau kecil yang berkaitan dengan pelanggaran perintah dan larangan-Nya, atau dinamai dengan hukum syari’at, tetapi juga yang berkaitan dengan pelanggaran terhadap hukum moral yang boleh jadi tidak dinilai dari segi syari’at sebagai dosa, atau persolan-persolan yang dianggap tidak wajar dari segi cinta dan emosi.

Dalam hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ,

أَذْنَبَ عَبْدٌ ذَنْبًا ، فَقَالَ: اَللَّهُمَّ اغْفِرْلِيْ ذَنْبِيْ. فَقَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: أَذْنَبَ عَبْدِيْ ذَنْبًا فَعَلِمَ أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِالذَّنْبِ . ثُمَّ عَادَ فَأَذْنَبَ ، فَقَالَ: أيْ رَبِّ اغْفِرْ لِيْ ذَنْبِيْ. فَقَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: عَبْدِيْ أَذْنَبَ ذَنْبًا فَعَلِمَ أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِالذَّنْبِ . ثُمَّ عَادَ فَأَذْنَبَ ، فَقَالَ: أيْ رَبِّ اغْفِرْ لِيْ ذَنْبِيْ. فَقَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: أَذْنَبَ عَبْدِيْ ذَنْبًا فَعَلِمَ أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِالذَّنْبِ ، اِعْمَلْ مَا شِئْتَ فَقَدْ غَفَرْتُ لَكَ .
“Seorang hamba mengerjakan dosa kemudian berkata, ‘Ya Allâh, ampunilah aku.’ Allâh Azza wa Jalla berfirman, ‘Hamba-Ku mengerjakan dosa dan ia tahu bahwa ia mempunyai Rabb yang mengampuni dosa dan menyiksa karenanya.’ Kemudian hamba tersebut berbuat dosa lagi, lalu berkata, ‘Wahai Rabbku, ampunilah dosaku.’ Allâh Azza wa Jalla berfirman, ‘Hamba-Ku berbuat dosa dan ia tahu bahwa ia memiliki Rabb yang mengampuni dosa dan menyiksa karenanya.’ Kemudian hamba tersebut berbuat dosa lagi, lalu berkata, ‘Wahai Rabbku, ampunilah dosaku.’ Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ‘Hambaku berbuat dosa dan ia tahu bahwa ia memiliki Rabb yang mengampuni dosa dan menyiksa karenanya, berbuatlah sesuka engkau, Aku telah mengampunimu.’” (HR. Bukhâri no. 7507 dan Muslim no. 2758).

Bahkan terbuka kemungkinan bagi yang tidak bermohonpun –selama dosanya bukan mempersekutukan Allah- untuk diampuni oleh-Nya :

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An-Nisa’ {4} : 48)

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا
“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.” (QS. An-Nisa’ {4} : 116)

Abu Dzar berkata bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

أتَانِي آتٍ مِنْ رَبِّي فَأَخْبَرَنِي أَوْ قَالَ: بَشَّرَنِي أَنَّهُ مَنْ مَاتَ مِنْ أُمَّتِي لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ قُلْتُ: وَإِنْ زَنَى وَإِنْ سَرَقَ قَالَ: وَإِنْ زَنَى وَإِنْ سَرَقَ.
“Baru saja datang kepadaku utusan dari Rabbku lalu mengabarkan kepadaku” atau Beliau bersabda: “Telah datang mengabarkan kepadaku bahwa barangsiapa yang mati dari ummatku sedang dia tidak menyekutukan Allah dengan suatu apapun maka dia pasti masuk surga”. Aku tanyakan: “Sekalipun dia berzina atau mencuri?” Beliau menjawab: “Ya, sekalipun dia berzina atau mencuri”. (HR. Bukhari no. 1161)

Dalam suatu riwayat dijelaskan :

وإِنْ زَنَى وَإِنْ سَرَقَ عَلىَ رَغْمِ أنفِ أبي ذرٍّ
“Meskipun ia berzina, mencuri dan minum khamar”. Walaupun Abu Zar keberatan” (HR. Bukhari 5827)

Begitu komentar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada sahabatnya Abu Zar yang terheran-heran dan merasa keberatan dengan jawaban Nabi atas pertanyaan tentang seorang yang berulang-ulang berdosa kemudian berulang-ulang pula bertaubat, namun tetap diterima Allah taubatnya (lihat tafsir Ibnu Kasir jld I).

Allah Yang Maha Pengampun segala dosa dan salah -terkadang walaupun seorang hamba tidak memohon ampun kepada-Nya- Dia akan hapuskan dosa-dosa tersebut. Hanya dengan sedikit perbuatan baik yang dilakukan seorang hamba, Allah akan tutupi dosa-dosa hamba tersebut. Bahkan selama seorang hamba tidak mengerjakan dosa-dosa besar, Allah dengan kasih dan sayang-Nya akan mengampunkan begitu saja dosa si hamba tersebut. Renungkanlah sabda Nabi di bawah ini :

الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ، وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ، مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ، إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ
“Shalat yang lima, jum’at ke jum’at, dan Ramadhan ke Ramadhan (berikutnya) menghapuskan kesalahan-kesalahan yang terdapat diantaranya, selama dijauhi dosa-dosa besar.” (HR.Muslim)

Mari kita pergunakan kesempatan dan peluang besar di blan Ramadhan ini untuk meraih ampunan Allah

Dalam bulan Ramadhan, banyak sekali sebab-sebab turunnya ampunan. Di antara sebab-sebab itu adalah:

Melakukan puasa di bulan ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Muttafaq alaih).

Melakukan shalaat tarawih dan tahajjud di dalamnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa melakukan shalat malam pada bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu .” (Muttafaq alaih).

Melakukan shalat dan ibadah di malam Lailatul Qadar. Yaitu pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Ia adalah malam yang penuh berkah, yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’anul Karim. Dan pada malam itu pula dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَمَنْ قَامَ لَيْلَةَ القَدْرِ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa melakukan shalat di malam Lailatul Qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu .” (Muttafaq alaih).

Memperbanyak mohon ampun dan taubat, baik siang ataupun malam. Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda,
إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا
"Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla membentangkan tangannya di waktu malam untuk menerima taubat orang yang berdosa di siang hari dan Dia membentangkan tangannya di siang hari untuk menerima taubat orang yang berdosa di malam hari. Hingga matahari terbit dari tempat terbenamnya." (HR. Muslim, no. 2759)

Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِيْ كُلِّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِيْنَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرِ فَيَقُوْلُ مَنْ يَدْعُوْنِيْ فَأَسْتَجِيْبُ لَهُ، مَنْ يَسْأَلُنِيْ فَأُعْطِيهُ، مَنْ يَسْتَغْفِرُنِيْ فَأَغْفِر لَهُ
“Tuhan Yang Maha Suci dan Maha Tinggi turun pada setiap malam ke langit dunia, yaitu ketika masih berlangsung sepertiga malam yang akhir seraya berfirman: “Barangsiapa berdoa kepada-Ku niscaya Aku kabulkan untuknya, barangsiapa memohon kepada-Ku niscaya Aku memberinya dan barangsiapa memohon ampunan kepada-Ku, niscaya Aku mengampuninya.” (HR. Muslim).

Sumber : https://www.facebook.com/abi.hamdi